Profil Sekolah, Lilis Halimah Datang Rasa Gusar Hilang

Dulu bagi guru dan siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Leuwibandung 02 musim hujan sering menjadikan mereka khawatir karena bias tiba-tiba air masuk ke ruang belajar dan tidak bias melanjutkan kegiatan belajar mengajar (KBM) atau bahkan tidak bisa pulang karena terkepung banjir, kini setelah ditangani Hj. Lilis Halimah, S.Pd semuanya berubah, mereka merasa lebih tenang melaksanakan KBM.

SEBUT saja Yadi Kusmayadi (10) – bukan nama sebenarnya – salah seorang siswa SD Negeri Leuwibandung 02, di Kp. Leuwibandung, Kelurahan Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Dulu mengaku gusar setiap kali musim hujan tiba seperti sekarang ini. Saat ibu guru tengah menyampaikan mata pelajarannya, nyaris tidak memperhatikannya. Awan gelap dan sekali-kali suara petir menggelegar di balik jendela membuatnya susah untuk berkonsentrasi.

“Beheula mun hujan ageung, kelas kabanjiran, rek uih oge susah. Ayeuna mah Alhamdulillah henteu sieun kabanjiran deui (Dulu kalau hujan besar, kelas kebanjiran, mau pulang juga susah. Sekarang sih Alhamdulillah tidak takut kebanjiran lagi -red),” ujarnya akhir pekan lalu.

Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang merupakan daerah langganan banjir di Kabupaten Bandung. Setiap musim hujan, beberapa wilayah di tiga kecamatan ini sulit terhindar dari banjir, meski upaya yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sudah membuat beberapa kolam retensi namun banjir masih belum bisa diatasi. Bahkan kata Kepala BBWS Citarum Bob Arthur Lombogia, di sepanjang Sungai Citarum nantinya akan ada 7 kolam retensi.

Kepala SD Negeri Leuwibandung 02 Hj. Lilis Halimah, S.Pd., mengungkapkan, dulu memang sekolah yang dipimpinnya jauh dari rasa nyaman. Lokasinya yang masuk gang sempit dan berada di tengah pemukinan penduduk menjadikan sekolah ini kalau banjir penuh dengan gantungan pakaian hingga kasur. Suasana sekolahs sendiri dulu nyaris lumpuh bila musim hujan seperti sekarang ini, karena akses masuk dan ke luar sekolah dikepung banjir.

“Dulu, bukan hanya siswa yang was-was kalau sedang musim hujan seperti sekarang ini, guru-guru pun merasakan hal yang sama. Kalau langit gelap, bisa jadi pertanda harus siap-siap gegejeburan atau naik perahu untuk ke luar dari lingkungan sekolah,” ungkap wanita pituin warga Kp. Leuwibandung ini.

Kondisi itulah katanya yang mendorong ia mengajukan diri dari Kepala Sekolah SD Negeri Cangkuang 5 untuk menjadi kepala sekolah di SD Negeri Leuwibandung 02. “Awal saya pindah ke sini pada September 2016, kondisi sekolah memprihatinkan. Kumuh dan beberapa bagian atap kelas mau roboh. Ruang belajar kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkap Lilis saat ditemui di ruang kerjanya.

Tak lama di duduk kursi, ia menyingsingkan lengan baju dan memotivasi tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut untuk sama-sama merubah imej sekolah. Proposal segera diajukan, dan tahun 2017 sekolah ini mendapat bantuan untuk merehab sekaligus empat lokal, ruang perpustakaan dan ruang kelas baru (RKB). Kebetulan sang suami Drs. H. Suhendar, M.MPd.I saat itu merupakan Kepala SMK Negeri 7 Baleendah yang sekolahnya menjadi konsultan untuk pembangunan dan rehab sekolah-sekolah dasar se Kabupaten Bandung.

“Sebagai orang yang lahir di sini, saya punya motivasi besar untuk berupaya menjadikan sekolah ini lebih bagus. Maka, jangan heran kalau bangunan sekolah ini nampak lebih kokoh dibandingkan dengan sekolah lainnya, dan lantainya dinaikan agar tidak terjangkau banjir,” ungkapnya.

Kondisi yang baik ini menjadikan 363 siswa SD Negeri Leuwibandung 02 bisa belajar dengan nyaman, begitu juga 11 guru yang rata-rata mengajar 30 siswa per rombongan belajar. “Bahkan sekarang, kegiatan ekstra kurikulernya juga lebih hidup,” tandasnya.

Kuncinya adalah, kata Lilis, berupaya menyamakan visi semua pemangku kepentingan di sini, kepala sekolah, komite sekolah, guru, para orang tua dan siswa. “Satu visi yang sama yang terus diingatkan dalam rapat-rapat dengan guru maupun orang tua siswa yakni mendorong sekolah ini lebih maju dari sisi sarana dan spiritual siswa dengan teladan dari guru-guru,” tandasnya.

Di Kecamatan Dayeuhkolot, menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TK/SD H Setiawan, meski menjadi wilayah yang sekolah-sekolahnya langganan banjir namun tidak pernah ada sekolah yang sampai libur. “Bagaimana pun sulitnya kami berusaha agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak sampai libur. Kita berusaha bisa beradapsi dengan lingkungan yang memang demikian,” jelasnya.

Kalau banjir besar, kata Setiawan, KBM tetep berjalan hanya saja untuk siswa kelas 1,2 dan tiga disuruh belajar di rumah, sedangkan siswa 4,5 dan 6 tetap belajar di sekolah.

“Karena sebelumnya memang pernah ada usulan dari orang tua siswa yang minta kebijakan untuk dapat tugas saja, karena untuk siswa kelas 1,2 dan 3 khawatir kalau terjadi apa-apa dalam kondisi air deras,” ujarnya. aep s abdullah

Tags
No Tag

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *