Pendidikan Karakter (Gampang atau Susah?)

PENDIDIKAN karakter sudah seharusnya mulai berkembang di negeri ini. Namun berbagai upaya yang dilakukan baik melalui departemen pendidikan dengan membuat pedoman yang diperuntukan bagi sekolah-sekolah maupun upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah secara mandiri atau dengan mengimplementasikan model yang dilakukan oleh departemen pendidikan, ternyata hasilnya belum memuaskan berbagai pihak.

Hal ini menjadikan tidaklah mudah merubah karakter manusia Indonesia saat ini melalui upaya pendidikan formal di sekolah-sekolah dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi karakter tersebut. Di samping itu ternyata jumlah karakter tersebut cukup banyak yang ada pada diri manusia sehingga tidaklah mudah untuk merubahnya dikarenakan keterbatasan waktu belajar di sekolah dan belum terpadunya pendidikan karakter dengan pendidikan keluarga dan masyarakat.

Pendidikan karakter secara ideal tidak boleh lepas dari sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Dengan enam nilai yang harus menjadi acuan yaitu: (1) Nilai Teologis (ketuhanan), (2) Fisiologis (fungsi fisik), (3) Etis (etika), (4) Logis (logika), (5) Estetis (estetika), (6) Teleologis (manfaat) yang mana keenam sistem nilai ini harus bterpadu dan menjadi tujuan dari pendidikan karakter, karena dengan mengarah kepada enam sistem inilah pendidikan karakter bisa berhasil membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
Proses pendidikan karakter sendiri harus melalui tahapan:

  • Perasaan
  • Pikiran
  • Tindakan
  • Kebiasaan
  • Karakter

Dalam Grand Design Depdiknas tahun 2010, ditekankan pada:

  • Olah pikir
  • Olah rasa dan Karsa
  • Olah raga
  • Olah hati

Dengan strategi pengembangan dalam KBM di kelas, kehidupan keseharian, dan kegiatan ekstra yang seperti pramuka, olah raga, karya tulis, dan hobi yang positif. Namun demikian secara ideal kegiatan ini jangan disebut kegiatan ekstra karena siswa menganggap kegiatan tersebut tidak wajib. Oleh karena itu istilah pelajaran ekstra diganti menjadi pelajaran yang biasa dengan nilainya tersendiri. Dengan demikian perlu adanya pemikiran bersama baik pihak pemerintah, sekolah, masyarakat, dan terutama orang tua siswa yang merupakan figur pertama dan utama dalam pendidikan keluarga.


Berdasarkan hasil penelitian ternyata jumlah karakter yang ada pada diri manusia lebih dari 400 macam, sedangkan Depdiknas hanya menekankan pada perlunya pengembangan karakter yang jumlahnya 18 macam karakter. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana caranya agar karakter lain yang cukup banyak tersebut bisa dikembangkan terpadu baik di sekolah. (Penulis, Pakar Pendidikan)

Category
Tags
No Tag

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *